Performa, Mewah dan Canggih, Tiga Kata untuk All New Honda PCX 160

Personal Comfort Xaloon’, adalah konsep dasar produk ini diciptakan untuk hadirkan kenyamanan dan berkendara kelas tinggi. Dengan bangga, Main Dealer sepeda motor Honda Jakarta Tangerang, PT. Wahana Makmur Sejati (WMS) kenalkan produk teranyar skutik premium All New Honda PCX dan All New Honda PCX e:HEV kepada konsumen loyal Honda di Jakarta dan Tangerang.

All New Honda PCX hadir dengan perubahan diseluruh bagian seperti mesin, Rangka, desain dan pastinya dengan penambahan fitur tercanggih dikelasnya. Setelah hadir selama satu dekade silam, hinga kini skutik premium Honda ini tetap hadir untuk berikan kenyamanan dan kesenangan bagi penggemar Honda PCX. Pengdopsian mesin 160cc 4 katup dan enhanced Smart Power plus (eSP+) dijamin akan berikan kesempurnaan puncak saat menemani keseharian maupun kegiatan turing. Itulah sebabnya pada ‘evolusinya’ All New Honda PCX kini miliki teknologi Honda Selectable Torque Control (HSTC) pada tipe ABS dan e:HEV yang dipastikan akan berikan keamanan yang lebih baik saat melintasi jalan yang licin.

Keunggulan dan kesempurnaan All New Honda PCX ini dipastikan dapat meraih minat konsumen Honda di Jakarta Tangerang. Pasalnya, berdasarkan data penjualan sepanjang 2020, Wahana mampu pasarkan ribuan unit Honda PCX (all series) pada konsumen. “Masuk dalam jajaran produk skutik premium Honda, kehadiran PCX terbaru ini akan dapatkan perhatian kosnumen setia kami pada segmen premium skutik. Sepanjang 2020 silam, sebanyak 24.300 unit diserap konsumen jakarta dan tangerang,” papar Chief Marketing Officer Wahana, Edi Setiawan dalam sambutan press confrence virtual, Kamis(11/2).

Sebagai pemegang pangsa pasar hingga 76,2 persen penjualan sepeda motor di Jakarta Tangerang, skutik premium Honda memang jadi ‘idola’ konsumen setia. Untuk tiga line up skutik premium Honda yang dipasarkan yaitu Honda Forza, Honda ADV150 dan Honda PCX, Wahana mampu menjual hingga 28.200 unit ketiga tipe tersebut selama 2020 lalu.

Lahirnya All New Honda PCX dengan beragam kesempurnaan yang dimilikinya, Wahana Makmur Sejati merasa bangga kenalkan skutik premium ini melalui launching virtual ‘All New PCX Ultimate Excellence‘ yang akan disiarkan secara live di instagram, facebook dan youtube Wahana Honda pada Minggu (14/2) mulai pukul 15:00. Dalam launching ini, Wahana akan suguhkan beragam informasi menarik terkait All New Honda PCX dan tentunya akan diramaikan suguhan hiburan musik oleh Tatlo.

Selain dapatkan informasi melalui launching virtual, konsumen yang penasaran dapat mengunjungi jaringan dealer di Jakarta dan Tangerang. Jangan khawatir terkait kenyamanan dan kesehatan terkait dengan protokol kesehatan, semua jaringan dealer dan bengkel AHASS di Jakarta Tangerang terapkan protokol kesehatan secara ketat demi kenyamanan dan kesehatan bersama. Selain itu, aplikasi Wanda yang dapat diunduh di platform Ios dan google play merupakan layanan terlengkap dan terintegrasi seputar kebutuhan konsumen setia Honda.

Konsumen yang berminat miliki All New Honda PCX selama periode launching, Wahana akan berikan spesial gift berupa jaket eksklusif dan smart key remote cover. Bagi konsumen yang melakukan  registrasi melalui aplikasi Wanda, konsumen juga berhak dapatkan tambahan 2 botol oli gratis. “Jadi ini jadi saat yang tepat untuk miliki skutik premium All New Honda PCX. Produk ini merupakan jawaban bagi konsumen yang ingin miliki skutik terbaik dikelasnya,” tambah Head of Marketing Wahana, Olivia.

Performa, Mewah dan Canggih

Performa, kemewahan, hingga kecanggihan semuanya lengkap dihadirkan pada All New Honda PCX ini. Bagian Mesin, rangka, hingga kecanggihan fitur diadopsi sempurna. Urusan performa, All New Honda PCX berkapasitas 160cc 4katup eSP+, berpendingin cairan, minim gesekan dan bertenaga maksimal hingga 11,8 kW @8500@8500 rpm dengan torsi puncak 14,7 Nm  @6500 rpm. Hadirkan sensasi berkendara responsif dan performa maksimal, produk All New Honda PCX e:HEV dilengkapi motor assist dan riding mode dengan pilihan mode normal (D) dan sport (S).    

Teknologi tercanggih dikelasnya, Hadir  fitur HSTC yang berikan  rasa aman sekaligus mendukung performa terbaik saat melintasi kondisi  jalan licin. Dukung performanya, All New Honda PCX mengkonsumsi bahan bakar mencapai 45 Km/l (tes dilakukan dengan pengaktifan fitur  ramah lingkungan Idling stop system dengan metode ECE R40 dengan metode pengetesan EURO 3).

Desain yang ditawarkan adalah hasil kombinasi kemewahan dengan sentuhan  garis  yang berikan  ekspresi dinamis. Perubahan pun terdapat pada logo, sementara itu, versi Hybrid  mengalami perubahan nama menjadi e:HEV, simbol elektrifikasi efisiensi teknologi Honda pada Hybrid Electric Vehicle hingga mudah dikenali sebagai kendaraan hybrid Honda.

Perubahan desain lampu pun semakin mendukung kesan mewah pada skutik premium ini. Desain lampu depan bersudut dengan posisi yang  lebih horizontal dan melebar, serasi dengan desain keseluruhan All New Honda PCX. Kesan Cahaya efek tiga dimensi dihadirkan pada lampu belakang skutik premium ini dan keseluruhan sistem lampu menggunakan LED.

Tampilan baru pada LCD panel meter yang lebar berikan informasi makin lengkap.  Fitur  informasi terbaru pada LCD panel meter ini antara lain indikator baterai, perawatan  v-belt,  dan indikator fitur  HSTC pada tipe ABS dan e:HEV.  Mendukung gaya hidup  pengendara saat ini, All New Honda PCX menjadi pionir di kelasnya dengan menghadirkan USB charger type A, dimana sudah tersedia socket untuk  melakukan pengisian daya. All New Honda PCX gunakan Smart Key yang dilengkapi alarm dan answer back system di semua tipe yang dapat berikan kebanggaan serta tampilan berkelas.  

Sektor rangka semakin  memberikan kenyamanan dan mendukung performa tinggi dari All New Honda PCX. Berstruktur lebih simpel tanpa mengubah bentuk desain bodi, memberikan peningkatan kapasitas bagasi untuk tipe CBS  dan ABS menjadi 30 liter  serta  untuk  tipe e:HEV menjadi  24  liter. Kapasitas tangki bahan bakar pun semakin besar hingga 8,1 liter.

Perubahan juga terdapat pada ruang area kaki pengendara, yang kini lebih panjang 3 cm, sehingga  membuat posisi berkendara makin nyaman dalam menempuh area perkotaan maupun jarak jauh. Skutik  premium  ini  didukung  ban  tubeless  yang  lebih  lebar berukuran  ban  depan 110/70-14 dan belakang 130/70130/70-13 dibalut desain velg Y shaped 5 spoke. Selain  itu,  juga  terdapat perubahan suspensi belakang dengan poros yang semakin panjang hingga 1 cm demi mendukung kenyamanan saat melibas jalanan kasar.

Fitur keselamatan seperti Anti-Lock Braking System (ABS) juga disematkan pada All New Honda PCX.  Dipasarkan dengan 3 tipe yaitu CBS, ABS, dan e:HEV. Tipe CBS terdapat warna Wonderful White,  Majestic Matte Red, Glorious Matte Black, dan Marvelous Matte  Gray dan tipe  ABS terdapat warna Wonderful White, Majestic  Matte Red,  Briliant  Black, dan Royal  Matte  Blue.  Tipe ABS memiliki jok two tone serta emblem PCX dengan warna tembaga. Sementara itu, tipe e: HEV  terdapat warna Horizon White, yang juga memiliki jok two tone dengan sentuhan warna biru pada emblem PCX berikan kesan istimewa.

Menikmati Indahnya Kota Dieng Wonosobo, rangkaian Trip day HBD 2019 part #04

Berkunjung ke kota Wonosobo khususnya Dieng memang selalu menarik, saya sendiri meskipun beberapa kali berkunjung ke Dieng tetap saja penasaran dengan suasana dan keindahannya. Kota kecil Dieng yang sering mendapat julukan negeri di atas awan. Kota ini memang sarat dengan panorama indah, khususnya gugusan pegunungan yang memagari kota berhawa dingin ini. Dieng berada di kota Wonosobo, kota yang terkenal dengan agro wisatanya. Dikota ini banyak terhampar perkebunan kentang dan sayuran yang di distribusikan di kota kota besar di Indonesia. Di kota Wonosobo juga terdapat pabrik Teh Tambi yang kualitasnya bertaraf internasional.

Saya dan teman teman blogger dan blogger ketika masuk kekota ini langsung di sambut dengan menu khas Wonosobo, yaitu sajian mie Ongklok dan sate buntel di salah satu warung Mie Ongklok Pak Muhadi yang cukup terkenal di kawasan Wonosobo. Mie onglok sebenarnya mirip mie jawa khas Jogja, hanya penyajiannya di tambah dengan sate  sehingga sajiannya menjadi lebih nikmat apalagi di santap hangat hangat. Kedai Mie Ongklok dan Sate “Pak Muhadi” yang berlokasi di Jalan A. Yani No. 1 Wonosobo, biasanya jam 8 malam sudah habis, jadi jika ingin mampir ke sini harus mengatur waktu yang pas atau janjian terlebih dahulu dengan pemilik warung.

Bermalam di kota Dieng memang sedikit unit, disini hanya tersedia home stay atau hostel, jadi jangan berharap ketemu hotel berbintang. Tapi justru di sinilah asiknya, kita bisa nongkrong bareng sambil membuat kopi di dapur atau menikmati wedang ronde di halaman depan sambil menikmati suhu dingin 14 derajat.

Tetapi kita juga perlu mengatur tenaga  dan waktu tidur, karena ke Dieng tanpa berburu sunrise di puncak Sikunir akan terasa kurang lengkap. Jadi usahakan tidur lebih awal karena pukul 3.30 pengunjung kota dieng sudah mulai berebutan untuk mendaki bukit Sikunir yang memiliki ketinggian sekitar 900 meter dengan kemiringan rata rata 45 derajat.

Berada pada ketinggian 2.200 mdpl, Bukit Sikunir memang dikenal sebagai tempat untuk berburu sunrise. Dinamakan Sikunir karena warna sinar Matahari yang kekuningan seperti kunir. Kunir dalam bahasa Jawa artinya kunyit.

Namun sedikit disayangkan cuaca kemarin waktu di puncak Sikunir sedikit mendung dan gerimis sejak sore, sehingga teman teman tidak mendapatkan golden sunrise dengan sempurna.

Ini berbeda dengan suasana pada waktu kita mendaki di Batu Pandang ratapan Angin yang lokasinya tidak jauh dari Bukit Sikunir. Khusus Batu Pandang Ratapan Angin, obyek wisata ini seolah memang menjadi salah satu tujuan yang tidak boleh dilewatkan pengunjung saat liburan ke Dieng. Hal itu tidak lain karena pemandangan indah yang tersaji di sana.

Kita bisa melihat Telaga warna dari ketinggian tebing batu Ratapan Angin, dengan latar belakang Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Satu keunikan panorama kedua telaga tersebut adalah warna airnya yang berbeda, meski bersebelahan. Telaga Warna cenderung lebih hijau, sementara Telaga Pengilon airnya terlihat lebih jernih. Kedua telaga itu hanya dipisahkan oleh daratan kecil yang hanya terlihat di musim kemarau. Sementara saat musim penghujan, daratan kecil itu akan terendam air sehingga kedua telaga akan tampak menyatu. Keunikan lain dari Telaga Warna adalah warna airnya yang kerap berubah. Terkadang warna airnya hijau, tetapi airnya bisa saja berubah menjadi kuning atau malah berwarna-warni seperti pelangi.

Dan satu lagi yang sebaiknya jangan di lewatkan ketika berkunjung ke Dieng adalah melihat peninggalan sejarah yaitu situs Candi Arjuna. Terletak pada ketinggian 2093 meter diatas permukaan laut (mdpl), Candi Arjuna menyajikan pesona lansekap dataran tinggi Dieng yang berpadu dengan mahakarya agung peninggalan peradaban Kerajaan Mataram Kuno. Deretan lekuk perbukitan yang menawan serta hamparan kabut khas dataran tinggi menjadi pelengkap bagi para pejalan yang singgah ke komplek Candi Arjuna.

Berdasarkan catatan sejarah, Kompleks Candi Arjuna merupakan candi tertua di tanah Jawa. Diperkirakan kompleks candi ini dibangun pada awal abad ke-9 Masehi. Hal ini diperkuat dengan bukti penemuan sebuah prasasti dengan aksara jawa kuno pada sekitar tahun 731 Caka (tahun 809 masehi) dan menjadi prasasti tertua yang disimpan di Galeri Museum Nasional, Jakarta.

Tidak sulit untuk menemukan lokasi kompleks Candi Arjuna yang secara geografis berada di dekat garis perbatasan wilayah Kabupaten Banjarnegara dengan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Plang penujuk jalan menuju Kompleks Candi Arjuna pun banyak terlihat di setiap sisi jalan di kawasan dataran tinggi Dieng untuk memandu para wisatawan yang hendak berkunjung ke kompleks candi peninggalan era Dinasti Sanjaya ini.

Di Kompleks Candi Arjuna ini terdapat lima bangunan candi yang berjajar lurus dari sisi utara ke selatan. Deretan candi-candi tersebut memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Rata-rata ketinggian candi yang ada di kompleks Candi Arjuna ini hanya setinggi empat hingga lima meter saja. Di sekeliling candi terdapat jalur bebatuan kerikil yang difungsikan sebagai jalur bagi umat Hindu yang sedang bersembahyang untuk berkeliling mengitari candi.

Menurut catatan sejarah, Kompleks Candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng ini pertama kali ditemukan oleh seorang tentara Inggris pada tahun 1814. Pada waktu pertama kali ditemukan, kondisi Kompleks Candi Arjuna tengah dalam keadaan terendam air telaga. Kemudian upaya penyelamatan kompleks bangunan candi pun dilakukan dibawah pimpinan H.C. Cornelius sekitar 40 tahun pasca penemuan. Proses penyelamatan lalu dilanjutkan dibawah pimpinan seorang tentara Belanda bernama Van Kinsbergen pada masa kolonial Hindia Belanda.