Catatan Kecil dari Acara Honda Biker Day 2019

Honda Bikers Day ke 11 yang di laksanakan pada tanggal 28 hingga 1 Desember 2019 di kota kecil Ambarawa Semarang kemarin berjalan sukses. Acara tahunan yang dihadiri pecinta roda dua ini semakin membludak dan meriah, meskipun di beberapa kota telah di gelar juga HBD tingkat regional. Mengapa bikers begitu antusias datang ke acara HBD ? Ada beberapa point yang di rasakan oleh bikers yang hadir di acara ini …

Bagi bikers yang sudah memilih dan menyiapkan motornya, tentu membawa motornya untuk kegiatan turing adalah sebuah pengalaman yang paling berharga, baik solo riding atau group riding. Touring secara tidak langsung mengajarkan Journey Plan yang baik, tidak bisa tiba-tiba langsung berangkat. Perlu persiapan matang agar dapat sampai di tujuan dan pulang dengan selamat. Touring adalah untuk mengasah ketrampilan kita berkendara dengan aman dan menempuh jarak yang lebih jauh. Bagi Bikers luar kota tentu menjadi kebanggaan tersendiri dapat hadir di acara HBD.

Hal ini karena HBD dapat memberikan pengalaman menarik, misalnya :

  • Pengalaman sebagai Bikers peserta HBD salah satunya adalah berkesempatan mengenal suasana di kota tempat HBD dilaksanakan, dan umumnya hal-hal menarik dari suasana tersebut dapat di share melalui media sosial.
  • Hampir di setiap lokasi HBD di gelar memiliki panorama dan kuliner yang khas, hal ini juga menjadi ajang untuk mengenalkan budaya dan wisata lokal. Jadi ritual touring tanpa membuat dokumentasi dengan foto foto yang menarik, rasanya akan kurang pas.
  • Mengenal sejarah dan peninggalan sejarah di lokasi acara HBD, Bikers tak hanya harus tahu tentang motor tetapi wajib pula mengenal sejarah baik mengunjungi situs, atau musium.
  • Silaturahmi dengan bikers dari daerah lain, ini yang paling seru. Karena pelaksanaan HBD Nasional di kunjungi oleh puluhan ribu bikers dari seluruh Indonesia. Acara ini ibarat lebarannya bikers, mereka bisa saling kenal dan diskusi tentang komunitas dan otomotif.
  • HBD Nasional juga tidak melupakan sisi sosial untuk saling berbagi, seperti melakukan Bhakti Sosial, Donor Darah atau Reboisasi.

Saya bersama teman-teman Blogger dan Vlogger hadir di acara tersebut atas undangan PT. Astra Honda Motor dan di support oleh Main Dealer Astra Honda Motor D.I Yogjakarta dan Jawa Tengah, DAM Jawa Barat, Wahana Makmur Sejati dan MPM Jawa Timur, cukup antusias mengikuti rangkaian acara yang telah di persiapkan oleh panitia dari tanggal 28-1 Desember kemarin. Bertemu dengan Blogger dan Vlogger ada saja keseruan menarik yang terabadikan di kamera, tidak heran jika selama 4 hari kemarin memory gadget terpakai hingga 10 Gb untuk keperluan fotografi dan videografi.

Biasanya di setiap acara HBD saya mempersiapkan perlengkapan fotografi dengan gear yang lumayan bikin pegel, Body Canon 7D dengan lensa 18-135 mm, lensa prime 50 mm dan 85 mm dan masih di tambah camera mirroless Samsung NX3000 dengan lensa 20 mm. Tetapi untuk acara HBD 2019 saya berupaya memaksimalkan penggunaan smartphone, ini juga sebagai ajang pembuktian bahwa dengan HP saat ini pergeseran dunia fotografi dan videografi sudah memasuki era mobile. Tehnologi HP sudah dapat mengambil, mengolah dan memposting foto dan video secara instan dan praktis. Saya sendiri menjatuhkan pilihan pada Note 10 adalah karena lensanya sudah sesuai kebutuhan untuk kegiatan streetphotography, Note 10 sudah dilengkapi dengan lensa lebar 12 mm, medium 27 mm dan tele 52 mm. Lebih praktis untuk semua kegiatan fotografi baik indoor maupun outdoor. Hasilnya pun terbilang lumayan, karena hanya untuk konsumsi blog dan medsos.

Dan Ini lah album foto dari beberapa spot foto yang terekam pada rangkaian acara HBD ke 11 di Ambarawa antara lain :

Part #1. Kuliner Yogjakarta, Kebetulan meeting point teman-teman adalah di Bandara Adi Sucipto, jadi acara pertama sekaligus santap siang bersama adalah kuliner khas Yogjakarta, dan tempat yang di pilih kali ini di Soto Kadipiro Ngestiharjo – Bantul yang melegenda. Warung Soto ini selalu ramai di datangi pengunjung, terletak di Jalan Wates No 33, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul – Yogyakarta.

Soto Kadipiro memang termasuk legendaris di Jogja. Rumah makan ini didirikan oleh Karto Wijono pada 1921, usianya kini menginjak 98 tahun. Soto Kadipiro awalnya dijual dengan dipikul oleh Karto Wijoyo. Sekitar tahun 1928 baru menetap di daerah Kadipiro.

Sampai saat ini sudah generasi ketiga yakni ibu Sri Sundari (59). Dinamakan Soto Kadipiro karena mengambil nama tempat yakni Kadipiro. Konon, rahasia mengapa soto ini begitu diminati adalah rasanya yang gurih dan segar.

Kaldu ayam kampungnya pun khas, yang rupanya merupakan resep turun-temurun dan tak pernah diganti meski sudah nyaris 100 tahun. Soto Kadipiro menjadi legendaris karena mempertahankan cita rasanya.

Part #2. Berburu Spot foto di Candi Borobudur

Borobudur adalah sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Borobudur adalah candi atau kuil Buddha terbesar di dunia sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar di dunia.

Borobudur memiliki enam teras berbentuk bujur sangkar yang di atasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Borobudur memiliki koleksi relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia. Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).

Monumen ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha.

Menurut bukti-bukti sejarah, Borobudur ditinggalkan pada abad ke-14 seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa serta mulai masuknya pengaruh Islam. Dunia mulai menyadari keberadaan bangunan ini sejak ditemukan 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa. Sejak saat itu Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran (perbaikan kembali). Proyek pemugaran terbesar digelar pada kurun waktu 1975 hingga 1982 atas upaya Pemerintah Republik Indonesia dan UNESCO, kemudian situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia.

Bersambung …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *