Menikmati Indahnya Kota Dieng Wonosobo, rangkaian Trip day HBD 2019 part #04

Berkunjung ke kota Wonosobo khususnya Dieng memang selalu menarik, saya sendiri meskipun beberapa kali berkunjung ke Dieng tetap saja penasaran dengan suasana dan keindahannya. Kota kecil Dieng yang sering mendapat julukan negeri di atas awan. Kota ini memang sarat dengan panorama indah, khususnya gugusan pegunungan yang memagari kota berhawa dingin ini. Dieng berada di kota Wonosobo, kota yang terkenal dengan agro wisatanya. Dikota ini banyak terhampar perkebunan kentang dan sayuran yang di distribusikan di kota kota besar di Indonesia. Di kota Wonosobo juga terdapat pabrik Teh Tambi yang kualitasnya bertaraf internasional.

Saya dan teman teman blogger dan blogger ketika masuk kekota ini langsung di sambut dengan menu khas Wonosobo, yaitu sajian mie Ongklok dan sate buntel di salah satu warung Mie Ongklok Pak Muhadi yang cukup terkenal di kawasan Wonosobo. Mie onglok sebenarnya mirip mie jawa khas Jogja, hanya penyajiannya di tambah dengan sate  sehingga sajiannya menjadi lebih nikmat apalagi di santap hangat hangat. Kedai Mie Ongklok dan Sate “Pak Muhadi” yang berlokasi di Jalan A. Yani No. 1 Wonosobo, biasanya jam 8 malam sudah habis, jadi jika ingin mampir ke sini harus mengatur waktu yang pas atau janjian terlebih dahulu dengan pemilik warung.

Bermalam di kota Dieng memang sedikit unit, disini hanya tersedia home stay atau hostel, jadi jangan berharap ketemu hotel berbintang. Tapi justru di sinilah asiknya, kita bisa nongkrong bareng sambil membuat kopi di dapur atau menikmati wedang ronde di halaman depan sambil menikmati suhu dingin 14 derajat.

Tetapi kita juga perlu mengatur tenaga  dan waktu tidur, karena ke Dieng tanpa berburu sunrise di puncak Sikunir akan terasa kurang lengkap. Jadi usahakan tidur lebih awal karena pukul 3.30 pengunjung kota dieng sudah mulai berebutan untuk mendaki bukit Sikunir yang memiliki ketinggian sekitar 900 meter dengan kemiringan rata rata 45 derajat.

Berada pada ketinggian 2.200 mdpl, Bukit Sikunir memang dikenal sebagai tempat untuk berburu sunrise. Dinamakan Sikunir karena warna sinar Matahari yang kekuningan seperti kunir. Kunir dalam bahasa Jawa artinya kunyit.

Namun sedikit disayangkan cuaca kemarin waktu di puncak Sikunir sedikit mendung dan gerimis sejak sore, sehingga teman teman tidak mendapatkan golden sunrise dengan sempurna.

Ini berbeda dengan suasana pada waktu kita mendaki di Batu Pandang ratapan Angin yang lokasinya tidak jauh dari Bukit Sikunir. Khusus Batu Pandang Ratapan Angin, obyek wisata ini seolah memang menjadi salah satu tujuan yang tidak boleh dilewatkan pengunjung saat liburan ke Dieng. Hal itu tidak lain karena pemandangan indah yang tersaji di sana.

Kita bisa melihat Telaga warna dari ketinggian tebing batu Ratapan Angin, dengan latar belakang Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Satu keunikan panorama kedua telaga tersebut adalah warna airnya yang berbeda, meski bersebelahan. Telaga Warna cenderung lebih hijau, sementara Telaga Pengilon airnya terlihat lebih jernih. Kedua telaga itu hanya dipisahkan oleh daratan kecil yang hanya terlihat di musim kemarau. Sementara saat musim penghujan, daratan kecil itu akan terendam air sehingga kedua telaga akan tampak menyatu. Keunikan lain dari Telaga Warna adalah warna airnya yang kerap berubah. Terkadang warna airnya hijau, tetapi airnya bisa saja berubah menjadi kuning atau malah berwarna-warni seperti pelangi.

Dan satu lagi yang sebaiknya jangan di lewatkan ketika berkunjung ke Dieng adalah melihat peninggalan sejarah yaitu situs Candi Arjuna. Terletak pada ketinggian 2093 meter diatas permukaan laut (mdpl), Candi Arjuna menyajikan pesona lansekap dataran tinggi Dieng yang berpadu dengan mahakarya agung peninggalan peradaban Kerajaan Mataram Kuno. Deretan lekuk perbukitan yang menawan serta hamparan kabut khas dataran tinggi menjadi pelengkap bagi para pejalan yang singgah ke komplek Candi Arjuna.

Berdasarkan catatan sejarah, Kompleks Candi Arjuna merupakan candi tertua di tanah Jawa. Diperkirakan kompleks candi ini dibangun pada awal abad ke-9 Masehi. Hal ini diperkuat dengan bukti penemuan sebuah prasasti dengan aksara jawa kuno pada sekitar tahun 731 Caka (tahun 809 masehi) dan menjadi prasasti tertua yang disimpan di Galeri Museum Nasional, Jakarta.

Tidak sulit untuk menemukan lokasi kompleks Candi Arjuna yang secara geografis berada di dekat garis perbatasan wilayah Kabupaten Banjarnegara dengan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Plang penujuk jalan menuju Kompleks Candi Arjuna pun banyak terlihat di setiap sisi jalan di kawasan dataran tinggi Dieng untuk memandu para wisatawan yang hendak berkunjung ke kompleks candi peninggalan era Dinasti Sanjaya ini.

Di Kompleks Candi Arjuna ini terdapat lima bangunan candi yang berjajar lurus dari sisi utara ke selatan. Deretan candi-candi tersebut memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Rata-rata ketinggian candi yang ada di kompleks Candi Arjuna ini hanya setinggi empat hingga lima meter saja. Di sekeliling candi terdapat jalur bebatuan kerikil yang difungsikan sebagai jalur bagi umat Hindu yang sedang bersembahyang untuk berkeliling mengitari candi.

Menurut catatan sejarah, Kompleks Candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng ini pertama kali ditemukan oleh seorang tentara Inggris pada tahun 1814. Pada waktu pertama kali ditemukan, kondisi Kompleks Candi Arjuna tengah dalam keadaan terendam air telaga. Kemudian upaya penyelamatan kompleks bangunan candi pun dilakukan dibawah pimpinan H.C. Cornelius sekitar 40 tahun pasca penemuan. Proses penyelamatan lalu dilanjutkan dibawah pimpinan seorang tentara Belanda bernama Van Kinsbergen pada masa kolonial Hindia Belanda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *